“Agama dan Sains Apakah saling berkolerasi?”

Oleh KKN DARING 09: Fadillah Akbar, Thaharoh Ananda Mumtahana, Arianti Nira Lestari, Nina, Putri Rahmadiana dan Rahmat Anwari.

Banyak diantara kita yang menganggap bahwa sains dan agama itu tidak berhubungan dan ada juga yang menganggap bahwa sains dan agama saling berhubungan satu sama lain. Lalu manakah yang benar?

Agama sering disebut dengan istilah “Din” (Arab)  yang diartikan sebagai agama secara umum baik untuk islam maupun untuk selainnya. Kata “din” yang banyak memiliki arti diantaranya adalah keberuntungan, kepatuhan, kekuasaan dan bijaksana. Sebagai contoh Ad-Din yang bermakna kekuasaan maksudnya disini adalah kekuasaan Allah yang maha mutlak yang harus dipatuhi dan ditaati oleh makhluk-Nya. Dalam firman Allah Q.S Ali Imran: 83 yang artinya “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya lah menyerahkan diri segala apa yang du langit dan di bumu, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah lah mereka dikembalikan”.

Sedangkan sains, menurut bahasa berasal dari bahasa Inggris yaitu “Science” yang artinya adalah mengetahui. Di dalam the New Columbia Encyclopedia, sains diartikan sebagai satu kumpulan ilmu yang sistematis mengenai metapisik yang bernyawa dan yang tidak bernyawa, termasuk sikap dan kaedah-kaedah yang digunakan untuk mendapatkan ilmu tersebut. Oleh sebab itu sains merupakan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu adakah hubungan antara agama dan sains?

Di masa pandemi saat ini sains dianggap segalanya dalam meraih keselamatan yang terpercaya. Sains dengan metode ilmiahnya digunakan untuk mengenali virus dalam rangka menyelamatkan manusia dan sebagian orang menganggap bahwa sains sebagai panglima saat ini. Neurosains dan Artificial Intelligence(AI) yang merupakan contoh lain dari superioritas sains .

Wow, pastinya sebagian orang menganggap bahwa sains merupakan penyelamat bagi dunia saat ini dengan berbagai teknologi-teknologi yang diciptakan.

Namun dibalik superioritasnya, sains tetap saja masih meninggalkan celah yaitu meskipun neurosains mampu mendeteksi otak dibagian-bagian mana saja yang aktif, namun ia tidak mampu menjangkau atau menggambarkan seperti apa fungsi otak itu berjalan dan gambaran seperti apa yang dipikirkan manusia melalui otaknya. Dan walaupun Artifical Intellegence(AI) bisa mereplikasi kegiatan manusia, tetapi ia tidak bisa mereplikasikan pikiran yang terjadi dalam otak seseorang. Sains juga tidak mampu menakar tingkat keimanan atau sikap spiritual seseorang.

Maka dari itu perlu kita ketahui bahwa agama dan sains merupakan sesuatu yang telah mewarnai sejarah kehidupan manusia karena keduanya berperan penting dalam membangun peradaban manusia. Seperti yang dikatakan oleh tokoh dunia Albert Einstein yaitu “Science without religion is lame. Religion without science is blind” yang artinya ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh dan agama tanpa ilmu pengetahuan buta.

Jika ilmu tanpa batas maka yang membatasi adalah akal kita. Tetapi akal juga memiliki keterbatasam sehingga tidak akan bisa mencerna semua proses ilmu yang tidak terbatas. Sehingga peran iman lah yang akan bekerja untuk melandasi keyakinan kitab. Sebagai contoh ilmu pengetahuan mencoba segala macam teknologi untuk dapat melihar wujud roh yang keluar dalam tubuh saat seseorang meninggal. Namun semua cara tersebut tidak akan pernah berhasil. Maka, iman lah yang akan melandasi keyakinan kita bahwa roh ghaib itu memang benar ada.

Islam yang sesungguhnya harus mampu menyeimbangkan fungsi dari akal dan wahyu, kegiatan di dunia dan di akhirat, serta doktrin dan praktik. Jika gagasan ini dipahami dengan benar, maka tak akan muncul perdebatan yang tak kunjung selsesai seputar agama dan sains. Dan sebaliknya ilmu pengetahuan modern dan Islam itu saling melengkapi. Temuan-temuan sains yang terjadi selalu ada dalam al-Quram jika diselami lebih dalam. Seperti surah al-Alaq yang menjelaskan proses penciptaan manusia. Dan pengoptimalan sains dan agama memungkinkan umat Islam untuk memperbaiki hidup melalui interpretasi yang tepat dan informasi syariah yang akurat.

Memupuk Rasa Solidaritas Sosial di Tengah Masyarakat Pada Masa Pandemi

By KKN Daring 06: Muhammad Fadli, Kiki Aprianti A, Urwatul Wusqo N.S, Ariski Nuril I, Neni Ariyani, Maya Prastiwi

Pandemi Covid-19 khususnya di Indonesia masih terus berlanjut bahkan kian memburuk. Angka kematian karena virus ini terus bertambah. Telah banyak dari mereka yang kehilangan orang tua, saudara dan keluarga sejak masuknya virus ini ke Indonesia pada awal Maret 2020 lalu. Banyak hal yang mulai berubah dan mengharuskan kita untuk beradaptasi  dengan kondisi yang baru.  Baik dari kebiasaan hidup, tata cara pembelajaran, pekerjaan, tata cara beribadah, serta cara bersosialisasi dengan orang lain harus disesuaikan dengan kondisi saat ini.

 Berada di situasi yang asing dan memulai kebiasaan baru yang belum pernah kita lakukan atau tidak pernah terpikirkan oleh kita bukan hal yang mudah. Selain itu pandemi juga membuat kita mengalami: kemerosotan ekonomi, krisis kesehatan mental, rasa cemas yang berlebihan, kecurigaan dan ketidakpercayaan kepada orang lain, serta tubuh yang lebih rentan terkena virus karena imun yang menurun, terlebih pandemi ini tak kunjung usai dan terus memburuk membuat kita merasa lelah dan putus asa.

Menumbuhkan dan memupuk rasa solidaritas sosial di tengah masyarakat merupakan tindakan tepat yang bisa kita lakukan untuk saling menguatkan di situasi ini. Dilansir dari laman sarjanaekonomi.co.id menurut Robbet M.Z Lawang (1985) “solidaritas sosial memiliki pengertian tetap kita berpegang pada kesatuan, persahabatan, saling percaya yang muncul dari tanggung jawab dan kepentingan bersama diantara para anggota”. Seperti yang kita tau negara Indonesia merupakan negara yang menjungung tinggi persatuan dan kesatuan sebagaimana yang terkandung di dalam Pancasila. Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, ras, bahasa, budaya dan agama, dengan banyaknya perbedaan ini sebagai warga negara yang baik kita harus terus menjaga persatuan dan kesatuan dengan memupuk solidaritas sosial.

Rasa solidaritas sosial tidak mengenal suku, ras, wilayah dan agama. Agama Islam mengajarkan kita untuk selalu berbuat kebaikan seperti yang dijelaskan di dalam Al-Quran yang merupakan pedoman bagi seluruh umat manusia. Rasulullah Saw menjadi suri tauladan nyata bagaimana seharusnya kita berperilaku, beliau merupakan sosok penuh akan kasih sayang yang memiliki kesempuraan jiwa dan kemuliaan akhlak. Beliau selalu memperlakukan semua orang dengan sikap yang sama sekalipun itu orang yang menyakitinya. Sebagaimana telah dijelaskan di dalam Al-Quran surah Al-Ahzab ayat 21 :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi   orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

Adapun bentuk perwujudan dari memupuk solidaritas sosial, yakni seperti sikap saling peduli dan tolong-menolong kepada sesama. Sebagai contoh, saat ada keluarga atau tetangga di lingkungan tempat tinggal kita yang terinfeksi virus Covid-19 sikap yang seharusnya kita tunjukkan bukan menjauhi atau menyalahkan mereka namun sebaliknya kita harus menyemangati dan mendukung mereka agar lekas sembuh, bisa dengan cara memberikan bantuan bahan makanan atau obat-obatan, yang pasti cara memberinya pun harus disesuaikan dengan cara yang benar mengikuti protokol kesehatan, ini merupakan salah satu contoh sikap peduli dan tolong meneolong kepada sesama.

Sikap peduli dan tolong menolong kepada sesama merupakan ajaran Rasulullah Saw, di dalam hadist nya Rasulullah banyak menyeru kita untuk saling tolong-menolong. Dengan tolong-menolong kita dapat saling menguatkan satu sama lain dan memperkokoh suatu kelompok (Negara). Dilansir dari Republika.co.id dalam buku jiwa dalam bimbingan Rasulullah karya Dr Saad Riyadh disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Perumpaan hubungan seorang mukmin dengan mukmin yang lain  adalah laksana sebuah bangunan yang masing-masing bagian saling menguatkan”. (HR Bukhori).

            Begitu pentingnya sikap peduli dan tolong-menolong kepada sesama dalam memupuk solidaritas sosial di tengah pandemi ini. Selain daripada tolong-menolong, masih banyak lagi cara untuk memupuk rasa solidaritas sosial seperti gotong royong, toleransi, dan berbagi atau bersedekah. Bersedekah bukan hanya dengan harta benda, bisa melalui ilmu, makanan, atau senyuman. Tetapi jika kita memiliki rezeki lebih kita dapat berbagi kepada mereka yang membutuhkan, apalagi dimasa pandemi seperti ini banyak dari mereka yang kehilangan pekerjaan sehingga untuk makan pun mereka merasa kesulitan. Begitu banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang keutamaan orang yang bersedekah, seperti yang terdapat dalam surah Al-Hadid ayat 7 :

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menginfakkan (hartanya) memperoleh pahala yang besar”

Didalam buku 55 wasiat Rasulullah SAW karya Hamzah Muhammad Shalih’ajaj, juga dijelaskan melalui hadist Rasulullah tentang keutamaan orang yang bersedekah, “Thabrani dan Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Al-Kabir, dia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sedekah dapat menghilangkan panasnya siksa kubur dari ahlinya. (orang yang bersedekah) Dan sesungguhnya orang mukmin bernaung dalam naungan sedekahnya dihari kiamat kelak”. (HR. Thabrani dan Baihaqi dalam kitab Al-Kabir.

Dari penjabaran di atas telah disebutkan pentingnya memupuk rasa solidaritas sosial di tengah masyarakat pada masa pandemi seperti ini untuk saling menguatkan satu sama lain. Banyak cara yang bisa dilakukan, seperti contoh-contoh yang telah diberikan di atas dan diharapkan dengan adanya tulisan ini dapat membuat kita menyadari pentingnya memupuk rasa solidaritas sosial pada masa pandemi ini setidaknya di lingkungan tempat tinggal kita sendiri.

Pentingnya Kesadaran Toleransi Untuk Menjaga Kerukunan Umat Beragama Pasca Dimasa Covid-19

By KKN DARING 18: M. Ramadhan, Misna, Luthfi Fitriyah, Maisyarah. M, Wanasnee Maming, Windri Agustina dan Khoridah Nurul Ain.

Indonesia sebagai bangsa majemuk yang terdiri dari banyak keberagaman (suku, budaya, ras dan agama) sangat menjunjung tinggi nilai toleransi, khususnya toleransi dalam beragama. Di Indonesia sendiri, ada 6 jenis agama yang diakui yakni Islam, Katholik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha dan Kong Hu Chu. Dengan mayoritas terbesar ialah penganut agama Islam.

Tentu saja dari berbagai macam keberagaman agama ini menciptakan berbagai perbedaan paham antar satu dengan yang lain, yang seringkali memicu timbulnya intoleransi antar umat. Padahal toleransi antar umat beragama telah diatur dalam UUD 1945, salah satunya di dalam pasal 28E ayat (1) yang berbunyi: “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya”. Namun faktanya, masih banyak kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia, terlebih lagi pada masa pandemi Covid-19 saat ini yang merubah segala tatanan kehidupan masyarakat khususnya dalam hal beribadah.

 Berdasarkan laporan riset ke-14 mengenai Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) yang diluncurkan oleh SETARA Institute menunjukkan bahwa pada tahun 2020 terjadi peningkatan kasus pelanggaran KBB dibandingkan tahun 2019 lalu. “Sepanjang 2020, dari sisi tindakan terdapat 422 pelanggaran, melonjak tajam dibanding sebelumnya 2019 yang hanya 327 pelanggaran.” Ucap Direktur Riset SETARA Institute Halili dalam pemaparannya di Hotel Ashley, Jakarta, Selasa (6/4/2021).

Kekawatiran pemerintah dalam menerapkan setiap kebijakan pencegahan pada masyarakat guna menekan pertumbuhan wabah ini, yaitu akan ada timbulnya sifat egois dan individualisme pada seseorang. Salah satunya ialah mengenai kebijakan tidak dianjurkan untuk sholat berjamaah di masjid. Dimana hal ini banyak menimbulkan pro dan kontra, banyak argumen yang bermunculan baik di dunia nyata maupun dunia maya, bahkan ada yang beranggapan bahwa hal ini bertentangan dengan UUD 1945 mengenai kebebasan beribadah umat. Padahal kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi tingkat penyebaran virus Covid-19 di Indonesia agar pandemi cepat berakhir. Adapun permasalahan lain akibat perbedaan pemahaman ialah terjadinya beberapa aksi radikal seperti bom bunuh diri yang dapat membahayakan nyawa orang lain, adanya beberapa kelompok yang ingin mengubah ideologi negara dan dilanjutkan dengan beberapa kasus intoleransi seperti sekelompok massa mengganggu ibadah jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kota Serang Batu di Kabupaten Bekasi pada 13 September 2020 dan adanya kasus larangan beribadah di rumah terhadap umat Kristen di Desa Ngastemi, Kecamatan Bangsal, Jawa Timur pada 21 September 2020, serta masih banyak lagi kasus lainnya. Tentu kita tidak bisa memaksakan kehendak kita terhadap orang lain, oleh karenanya diperlukan kesadaran bagi masing-masing individu agar tidak terlalu berlebih-lebihan (ekstrem) dalam mengamalkan ajaran agama serta pentingnya sikap toleransi antar umat, demi terciptanya kerukunan dan keharmonisan umat beragama terlebih lagi dimasa pandemi saat ini.

Nah dari berbagai macam uraian permasalahan yang telah dijelaskan, maka toleransi sangat penting dalam menjaga kerukunan umat beragama dimasa pandemi saat ini. Sehingga hal ini menjadi faktor bahwa moderasi agama yang dibarengi dengan toleransi ber agama ibarat pelengkap yang saling memiliki keterkaitan.

Apa itu Toleransi?

Toleransi merupakan sikap menghargai satu sama lain, saling menjaga antar sesama serta sikap peduli terhadap sesama untuk menghadapi perbedaan dalam kehidupan. Adapun makna toleransi menurut W. J. S. Poerwadarminto dalam “Kamus Umum Bahasa Indonesia” toleransi adalah sikap atau sifat menenggang berupa menghargai serta memperbolehkan suatu pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, maupun yang lainnya yang berbeda dengan pendirian sendiri.

Toleransi telah di atur dalam Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 menjelaskan bahwa “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali”.

Dalam Al-Qur’an surah al-Kafirun juga berisi kandungan tentang adanya toleransi dalam keimanan dan peribadahan. Allah SWT berfirman yang artinya :

“Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembuh. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku” (Q.S AL-Kafirun 1-6)

Apa Pentingnya Toleransi dalam Beragama dimasa Pandemi ini?

Toleransi merupakan bagian yang sangat penting dari moderasi beragama. Moderasi beragama dapat menciptakan toleransi dengan sikap saling menghormati, serta menghargai baik antar individu maupun antar kelompok di lingkup masyarakat dan lingkup lainnya. Moderasi Beragama adalah pandangan seseorang yang tidak berlebih-lebihan didalam mengartikan dan mengamalkan inti ajaran agama didalam kehidupan sehari-hari. Baik toleransi maupun moderasi adalah nilai inti yang termuat dalam ajaran Islam. Oleh karenanya, toleransi dalam beragama sangat penting dan dibutuhkan tidak hanya dimasa pandemi seperti sekarang namun dalam kondisi apapun. Karena dengan menjalankan nilai-nilai toleran dan moderat dapat mengatasi berbagai macam persoalan umat seperti radikalisasi keagamaan, kekerasaan mengatas namakan agama, sikap ekstrim, dan fanatisme yang berlebihan sehingga terciptalah kerukunan umat dalam kehidupan berbangsa khususnya dalam aktivitas keagamaan. Dengan mengedepankan sikap toleransi tatanan kehidupan akan berjalan dengan damai, rukun, sejahtera dan akan terhindar dari permusuhan.

Dimasa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini seharusnya bisa menjadi momen untuk mengedepankan sikap toleransi dan tolong menolong antar umat beragama dan lintas kepercayaan. Pada kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang, banyak orang-orang yang sadar betapa pentingnya menghargai orang lain dengan berbagai cara seperti sebuah kelompok mengadakan bakti sosial kepada orang yang membutuhkan, saling bahu membahu dalam membantu sesama yang terdampak dari wabah ini tanpa memandang ia muslim ataupun bukan.

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan merupakan fakultas yang kelahirannya tidak terlepas dari lahirnya IAIN Samarinda. Dahulu IAIN Samarinda adalah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Samarinda (STAIN Samarinda) yang merupakan penyatuan fakultas cabang yang menginduk pada IAIN. Penyatuan ini didasarkan pada tuntutan zaman yang mengharuskan pengembangan kelembagaan Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia.
Fakultas tarbiyah pada saat itu bernama jurusan tarbiyah yang merupakan jurusan tertua di STAIN Samarinda. Jurusan tarbiyah merupakan cabang dari IAIN Sunan Ampel. Jurusan terbiyah merupakan modal awal dan utama yang dimiliki STAIN Samarinda. Jurusan tarbiyah memiliki tenaga pengajar yang kompeten dan memadai dengan kualifikasi sesuai kebutuhan jurusan tarbiyah. Tenaga pengajar berasal dari dalam dan luar negeri.
Lahirnya STAIN Samarinda dilatarbelakangi oleh adanya suatu gagasan dari para tokoh organisasi Islam untuk mendirikan PT Islam di Kaltim. Pada tanggal 18 Agustus 1963, Gubernur KDH. TK. I Kalimantan Timur meresmikan berdirinya Sekolah Persiapan Institut Agama Islam Kalimantan Timur (SPIAI).
Selanjutnya pada bulan Nopember 1968 secara resmi Fakultas Tarbiyah IAl Kalimantan Timur dijadikan Fakultas Tarbiyah IAIN di bawah asuhan IAIN Sunan Ampel Surabaya, dengan SK Menteri Agama RI No. 167/1968. Pada tanggal 16 Juni 1997 terjadi alih status dari Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Samarinda menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda, sebagaimana tercantum dalam Keputusan Presiden RI. Nomor 11 Tahun 1997 dan Keputusan Menteri Agama RI. Nomor 312 Tahun 1997.
Pada tahun 2014 STAIN Samarinda berubah menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda, mempunyai empat Fakultas yang salah satunya adalah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) yang memiliki enam program studi. Program studi tersebut adalah Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Tadris Bahasa Inggris (TBI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD).